Minggu, 18 Februari 2018

Ekspektasi vs Realita-2

Image by Pinterest

Apa yang mendefinisikan dirimu?
Like if someone ask you, who are you? Hal pertama apa yang akan kamu jawab?
Aku belajar bahwa jawaban atas siapa kamu, adalah jawaban paling jujur dari bagaimana kita mendefinisikan diri sendiri.
Jadi sudah kah kamu punya jawaban atas itu?

My suffering experience berawal dan berakhir dari pertanyaan itu. Dan mungkin banyak orang lain juga mengalaminya terutama mereka yang berusia dewasa muda, 20 an.
Biasanya kita diusia ini, belum benar-benar punya jawaban pasti untuk menggambarkan diri sendiri.

Sabtu, 17 Februari 2018

Ekspektasi vs Realita-1


image by Pinterest 

Apa ekspektasi kamu saat membayangkan berusia 24 tahun.
Well, lulus kuliah S1, sedang menyelesaikan S2 di luar kota atau sekalian di luar negeri. Menikah? Oh atau setidaknya sudah punya calon andalan yang bisa dibanggakan setiap acara kumpul keluarga. Punya pekerjaan prestise, berangkat pagi pulang petang, baju kantoran, ruangan AC 24 jam. Upah di atas standar. Punya gawai keluaran terbaru. Tabungan lumayan. Segala hal yang terasa ideal dan sebagian besar orang telah capai.

Sayangnya, itu terasa jauh sekali dari realita yang sebenarnya terjadi.
Kalau bukan bagi kamu, setidaknya untuk aku.
Di usia ini, nyatanya alih-alih mencapai segala hal yang terasa ideal tadi, aku malah jatuh bangun, berguling-guling untuk berjuang keras mengalahkan monster di kepala sendiri.

Jumat, 02 Februari 2018

Februari Telah Tiba

picture from pinterest

Hola, rasanya sudah puluhan purnama tidak bersua dengan blog tercinta. Kalau kamu 3D sudah ku peluk penuh rindu pastinya. Hari ini menandai come back nulis blog, aku ingin posting kabar bahagia. Ya, aku berhasil melewati 2017!!
Iya, 2017 yang penuh suka duka itu berhasil ku lewati dengan berkali kali suffering dari berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ku rasakan.


Pak Jokowi,please



Soal apa yang bikin aku suffering akan ku ceritakan nanti insyaAllah, tapi tetap pakai gayaku ya, yang tidak akan to the point cerita ala Baim ketika doa setelah salat. Mungkin nanti akan dibuat seperti syair (dih, berasa Pak Sapardi).
Btw, ngerasa nggak sih gaya nulisku pun berubah sekarang (karena nggak yakin ada pembaca tetap blog ini, anggaplah pertanyaan barusan retoris)? Lebih simpel dan berasa curhat? Nah, hal-hal kecil seperti ini sebenarnya adalah dampak dari perubahan dari dalam diri aku yang lebih besar akibat suffering beberapa waktu yang lalu itu.

Sabtu, 13 Mei 2017

Solusi Gadget Murah Berkualitas, Axioo Aja



Gambar diambil dari pinterest


Bagi aku yang seorang sulung dari 6 bersaudara dan anak dari sepasang buruh pabrik swasta, berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri adalah sebuah kemewahan sekaligus anugerah yang patut disyukuri. Namun seperti kata pepatah, kesenangan dan kesedihan akan datang silih berganti dalam tiap keadaan, aku dan keluarga pun tidak luput dari ketentuan itu. Setelah menikmati momen bahagia dengan diterimanya si sulung naik jenjang sebagai mahasiswa, tak lama kami pun lalu saling menatap penuh kekhawatiran. Bagaimana tidak, biaya per semester, biaya indekos belum lagi ongkos hidup sehari-hari tengah menghantui pikiran kami.

Aku adalah seorang gadis yang tumbuh dan besar di sebuah kampung kecil di kabupaten Lampung Tengah, Lampung, di mana disekitar tempat tinggal kami tidak ada satu pun perguruan tinggi negeri yang bisa dimasuki. Sehingga satu-satunya cara untuk mendapat pendidikan lebih lanjut adalah dengan hijrah dan menetap di kota. Kecemasan melingkupiku dan meski orang tua tidak berkata apa-apa, aku tahu mereka pun merasakan hal yang sama.

Minggu, 07 Mei 2017

Mau Wisata Halal Terlengkap? Cheria Wisata Tour Travel Halal Solusinya



Image by Pinterest

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki Nya. Dan hanya kepada Nya lah kamu (kembali) setelah dibangkitkan.
Al Mulk:15

Sebagai manusia yang ditugaskan menjaga bumi dan seluruh isinya, menjadi salah satu keharusan untuk mengenal dan mencintai dunia ini dengan ‘berjalan’ di segala penjurunya. Melakukan perjalanan sejatinya bukan hanya berpindah tempat dan waktu namun juga  sebuah proses mengenal Pencipta lewat berbagai perbedaan dan keindahan yang diciptakanNya. Lalu bagaimana mungkin proses maha indah itu lalu kita jalani dengan memasukkan berbagai unsur yang Dia larang, seperti destinasi perjalanan yang mendukung pornografi dan pornoaksi, tidak adanya tempat ibadah, makanan dan minuman yang tidak halal dan sebagainya?

Belakangan, adanya fatwa MUI tentang wisata halal, seolah mengamini niat awal saya untuk secara serius memikirkan dan menimbang mengenai berbagai kebutuhan yang mestinya terpenuhi oleh penyedia jasa travel yang saya pilih nanti guna mendukung liburan yang menyenangkan namun tetap dalam nuansa halal, karena yang halal lebih nyaman, kan?  


Kamis, 04 Mei 2017

Menjadi Perempuan Indonesia, di antara Dilema Kesetaraan dan Kepatutan


 Gambar diambil dari pinterest
Hal paling inspiratif dari perjuangan Kartini adalah karena Ia melakukannya untuk kebermanfaatan dan kehormatan perempuan Nusantara bukan hanya kepentingan pribadinya.

21 April hanya akan menjadi parade kebaya dan sanggul jika kita lupa makna perjuangan yang sebenarnya. Atau hanya akan jadi sebuah pagelaran kontes minim renungan jika kita hanya sekilas terpukau pada kutipan-kutipan kata tanpa mau meneladani perjuangan dan kerja keras simbol perempuan Nusantara, Raden Ajeng Kartini, yang semoga selalu terberkati oleh Yang Maha Esa.

Menjadi perempuan bagi ku (dan mungkin dirasa juga oleh perempuan lainnya) adalah sebuah keberkahan sekaligus juga jalan terbentang panjang atas nama kehormatan dan kesetaraan. Menjadi perempuan Indonesia, khususnya, telah lama seolah digambarkan sebagai manusia kelas dua, yang tidak perlu terlalu cerdas, terlalu kaya, dan ter ter lainnya yang menunjukkan kelebihan hingga membuat laki-laki merasa kecil dan rendah diri.

Selasa, 25 April 2017

Ia Muncul Lagi



Image by weheartit

Mimpi itu lagi. Setelah sempat tidak pernah hadir, kini semua seperti kembali ke awal. Besok akan hari jadi yang panjang, harus kembali menemui dokter dan menjawab serta menjalani berbagai pertanyaan dan perawatan. Membayangkannya saja sudah membuat lelah. Sekarang apa yang harus kulakukan setelah terbangun di tengah malam?

Lelaki 28 tahun itu lalu beranjak dari kasurnya yang terbilang cukup besar, ia mengeratkan kembali tali piama tidur berwarna coklat yang ia kenakan. Harapan untuk tidur lebih lama telah hilang seiring semakin seringnya mimpi buruk datang pada beberapa hari belakangan. Ia memutuskan membuat coklat panas dan mengambil buku catatan.

Buku yang sempat ia tidak sentuh karena berkurangnya intensitas mimpi buruk. Dokter tempatnya mendapat bantuan kejiwaan mengatakan ia harus kembali melakukan treatment semula, saat ia datang mengeluh pekan lalu.

Lelaki dengan mata tajam itu membuka buku catatan bersampul coklat, di dalamnya terdapat banyak catatan. Di halaman-halaman awal, tulisan yang tergores terlihat acak-acakan. Seolah yang menulis tengah ketakutan. Ia ingat saat itu, di awal menulis catatan, mimpi yang mendatanginya begitu mengerikan.
Ia melihat banyak anak panah berterbangan di atas kepala. Takut juga bingung yang ia rasakan di mimpi, anehnya terbawa hingga ia bangun. Bahkan jika gambaram mimpi kian jelas, maka seharian mood dan pikirannya tersita, ia tidak bisa berpikir seperti biasa.